Wednesday, January 9, 2013

"Jadilah!" Maka terjadilah ia

Pernah nggak merasa kalau Tuhan itu mempermainkan hidup manusia?

Gini loh, misalnya ya, waktu si pacar begitu keukeuh benci sama orang yang selingkuh dan berjanji nggak bakal melakukan itu sama kamu. Tapi beberapa tahun kemudian, kamu tahu kalau dia sibuk flirting sana-sini sama teman-teman kantornya, ber-aku-kamu-an di sms atau di tlp.
Atau ketika kamu ngomong depan sahabat "ih, gue sih gak bakal deh ya ganggu cowok orang kayak si A." Tapi beberapa bulan kemudian kamu deg-degan dan gelisah sendiri nunggu tlp atau sms dari pacar orang lain.

Pernah terpikir gak gimana perasaannya ketika menyadari bahwa kita gak bisa memegang komitmen sama diri sendiri? Kalau saya, saya akan merasa jadi pecundang. LOSER banget. Terlebih kalau saya menyakiti perasaan orang lain, karena pada dasarnya saya tahu bahwa gak ada satu manusia pun yang mau disakiti atau dirugikan.
Dalam beberapa kasus, saya dan seorang teman pernah ngebahas soal ini. Waktu itu kita mikir, "ih, Tuhan tuh maunya apa ya? Kok kayak mainin hidup manusia gini." "Iyah, orang ngomongin apa, eh kejadian sendiri ama orang itu"
Well, seiring berjalannya waktu, saya mikirin. Asumsi saya saat ini sih, mungkin Tuhan itu nggak mau kita terlalu pede ama apa yang bakal terjadi. Memang, ada yang namanya 'power of mind'. Tapi tetep aja itu nggak bisa melawan yang namanya takdir.

Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi atau jadi apa kita nantinya. Tapi jangan sok pede kalau kita nggak mungkin melakukan sesuatu yang menyakiti atau merugikan orang lain dengan alasan prinsip diri atau komitmen. Karena jika nyatanya kita 'mengkhianati' komitmen dan menyakiti orang lain, kata 'maaf' rasanya nggak akan cukup untuk membangun kembali kepercayaan dan menghapus luka di hati orang yang tersakiti.

Ingat Yassin ayat 82?

"Innama Amruhu Idza Arada Syai'an An Yaqula Lahu Kun Fayakun"


 Kussen!

Evie.

No comments:

Post a Comment