Wednesday, October 15, 2008

surat terakhir

Tak pernah terbayangkan olehku menulis perasaan tentangmu untuk terakhir kalinya. Tak sedikit pun terbersit di benakku kita akan berpisah. Karena dalam mimpiku. kita akan selalu bersama. Meraih cita, membesarkan anak-anak, hingga menikmati hari tua kita di sebuah desa. Kamu sibuk merakit mainanmu sendiri dan aku, memetik selada, tomat dan sayuran lain di belakang rumah kecil kita.

Janjiku tak akan pernah berubah. Aku akan selalu menemanimu, di sampingmu, sambil menggenggam tanganmu. Seolah tak peduli seisi dunia ini menentang, aku selalu bersamamu.

Satu harapanku. Kamu selalu ada di sisiku, mencintaiku, menjagaku sampai kau melihat jelas semua keriput di wajah ini dan hingga aku memapahmu berjalan karena umur perlahan menggerogoti tulang kita.

Kamu pernah menjadi segalanya, memberikan perasaan terbaik dalam hidupku. Kehilanganmu mungkin adalah kekalahan terbesar. Sungguh pun aku dapat mengulang segalanya, aku tak akan mengulang cerita yang sama tentang kita. Dan berharap ada akhir lebih baik dari ini.

2 comments:

  1. duh dear, gua berkaca-kaca baca ini. sigh.

    ReplyDelete
  2. Hhhh, wong aku nulis ini sambil berderai air mata pun... trus besoknya ke kantor dengan mata segede bola ping pong. *hiks*

    ReplyDelete