Monday, May 7, 2012

(MY) Wake up Call


Gue kasih judul yang sama dengan tulisan yang ada di blog mbak Ira soal … (njrit, gue ampe nggak sanggup nulisnya). Ngehek bener yak dunia ini. Di tengah kemajuan teknologi, berbagai inovasi baru dan perkembangan informasi, kita harus dihadapkan masalah pelecehan seksual. Pertama kali baca tulisan mbak Ira ini, gue langsung bilang ke Bowo, ”oke, it’s settled. Sonner or later aku akan berhenti kerja.” Untung tanggapannya sungguh sangat positif, meski concern-nya bukan karena kasusnya tapi lebih karena am the mother and am the one who take in charge.



Jujur deh, gue dirundung keparnoan yang sangat besar. Gue nggak nyangka anak SD udah tahu, ngerti dan ada yang mempraktekan apa itu ngent*t, mastu***** atau ML. Dan yang bikin gue tambah takut, gue punya Qila.

Dan ini baru kasus pencabulan yang dilakukan anak di bawah umur, trus bagaimana dengan fedofil? *langsung pingsan terkapar* Pertanyaan ini benernya bukan buat nakutin, tapi mudah-mudahan aja bisa jadi alarm, gimana kita harus waspada terhadap lingkungan dan pengawasan anak. Kita juga bertanggungjawab terhadap segala informasi yang diterima anak dan lebih jauh lagi, kita itu sepenuhnya bertaggung jawab dunia dan akhirat terhadap hidup si anak. Gue kutip dari blognya mbak Ira ya, 

orang tua harus memiliki prinsip dalam mengizinkan anak untuk menonton TV, mengakses internet dan memiliki gadget. Dari survei yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati, dia menemukan bahwa 80 persen gadget sampai ke tangan anak tanpa alasan logis. Semata-mata hanya karena orang tua yang ingin membelikan anak-anaknya.
“Padahal untuk memberikan anak gadget dan izin untuk menonton TV serta akses internet, kita harus memiliki alasan, persyaratan, kesepakatan, pelaksanaan dan evaluasi. Kita juga tidak bisa hanya melarang anak untuk nonton atau melihat pornografi. Kita harus duduk bersama mereka dan mencontohkan apa yang harus mereka lakukan. Ingat pepatah ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’? Perbuatan teladan itu lebih berharga daripada jutaan kata-kata,” jelas Elly.

God, gue nggak pernah tahu jadi orang tua itu segini menakutkan dan parnonya. Dan ungkapan It takes a village to raise a child rasanya bener-bener harus diterapkan. Oia, dua tulisan mbak Ira soal ... (gue masih ogah nulisnya!!) bisa dilihat di sini;




pic taken from here
xo. evie. 

No comments:

Post a Comment