Sunday, October 19, 2008

petuah si ayah

Oke. Pulang dari anyer, di tol. Si ayah mulai mengevaluasi hidup anak-anaknya. Mulai dari si egi yang IP-nya Cuma 2.8 (katanya). Padahal yang dia ambil bukan jurusan eksakta. Universitasnya pun bukan yang negri. Jadi buat saya dan keluarga, itu sama sekali bukan prestasi.

Sedangkan saya? Dari dulu memang keluarga agak gak setuju soal pekerjaan saya sebagai wartawan yang gak terikat waktu. Pergi pagi pulang malam, penghasilan pas-pasan. Selain ‘ceramah’ soal jam kerja saya yang amburadul, si ayah mulai nyinggung soal pendidikan S2. Sejak peristiwa batalnya pernikahan saya beberapa bulan lalu, si ayah sudah wanti-wanti supaya saya melanjutkan pendidikan ke jenjang master. Saya sendiri bukannya gak mau, tapi rada malu hati kalau untuk sekolah (lagi) harus dibiayai orang tua. Makanya saya pun masih keukeuh untuk cari beasiswa. Tapi kali ini sepertinya permintaan si ayah rada mendesak. Dia tetap ingin saya melanjutkan sekolah dalam waktu dekat. Di sisi lain saya tahu kalau biaya S2 itu gak murah, dan renovasi rumah yang memakan duit ratusan juta hingga si ayah mesti jual dua mobilnya, belum juga kelar-kelar. Hadoooohh! Dilema saya...

2 comments:

  1. selagi ada, go for it. pay them later. with good grades, bright career, some money back oh and not to forget, a potential loving husband on the side ;-)

    ReplyDelete
  2. iya yah? tapi rada malu ati nih. berasa nyusahin orang tua (lagi).

    ReplyDelete