Thursday, November 19, 2009

obrolan singkat saja

Enaknya pulang cepet adalah bisa ketemu si ayah--kalo maleman dikit dia udah tidur atau hanya nunggu saya pulang lalu... tidur--dan berdebat panjang lebar tentang banyak hal. kali ini soal kerjaan. awalnya dia bilang "Kak, si Astri lagi tes pegawai negri tuh. enak kan kerjanya nggak berat, gak masuk kantor juga gak apa-apa trus dapet macem-macem lagi". dari awalnya aja saya sudah nggak setuju. no, bukan soal pegawai negerinya. tapi pemikiran banyak orang yang berlomba-lomba jadi pegawai negeri demi tunjangan berlimpah. mau enak tanpa susah. oke, oke, saya akui, kita memang perlu materi, misalnya gaji gede, tunjangan macem-macem ampe gak keitung apaan aja. tapi yang sering dilupain adalah eksistensi kita dalam bekerja. maksudnya gini, ketika kita bekerja, tentu bukan cuma materi yang dicari, tapi juga pengalaman dan ilmu. dengan begitu kita bisa jadi pribadi yang dinamis, nggak monoton dan kolot.

Pernah nonton Grey’s Anatomy? Kalau iya, kita pasti bisa lihat bagaimana co-ass dan dokter di sana nggak rela cuma duduk di UGD. Karena dengan begitu mereka merasa potensi, kemampuan dan kelebihan mereka berasa nggak berguna dan berharga. They’re craving for patients, cases, rare cases. Malah ada adegan di mana 2 co-ass berebut mendapatkan bedah 18 jam dan rela menggunakan pampers supaya nggak perlu meninggalkan ruang operasi. Intinya, mental mereka mau kerja! They’ll do anything for the job. Beda sama kita di sini. Dikasih kerjaan susah dikit, ngeluh. Dikasih kerjaan banyak, langsung oper ke bawahan. Tanpa punya pikiran dengan kerjaan susah kita jadi lebih pintar, lebih canggih, lebih tahu dari orang yang kerjaannya gampang tentunya dan lebih bisa diandalkan. Tanpa berpikir dengan kerjaan banyak kita bisa lebih cekatan dan disiplin dari orang lain.

Jujur aja, mental ‘lembek’ gini masih ada di diri saya. Saya masih suka mengeluh, mempertanyakan load pekerjaan, dan embel-embel lain. Dan bodohnya, dengan mental yang kayak gini kita masih nuntut perusahaan membayar lebih atau kenaikan jabatan. Parahnya lagi kita juga suka berkoar kemana-mana dengan isu underpaid oleh perusahaan sendiri. Dan saya pernah bilang ke diri sendiri “lah kalau elo memang merasa harus digaji lebih gede tunjukin dong kalau ada perusahaan lain yang mau meng-hire dan membayar elo lebih dengan kemampuan dan mental yang kayak sekarang ini. Kalau gak bisa, face it aja mungkin harga elo memang cuma segitu.” Iya dong, ibarat beli mangga dengan harga mahal, tapi isinya sedikit. Belom lagi kalau abangnya nipu timbangan—seperti kita suka melebih-lebihkan sesuatu di CV—mana ada yang mau beli tuh mangga. Malu benar saya ini!

Akhir-akhir ini saya jadi sering berpikir dan introspeksi, gimana caranya bisa jadi ‘berharga’ dan dipertahankan perusahaan sendiri. Malah kalau bisa diincer perusahaan lain (baca: dibajak)? Itu makanya saya mau nulis buku, mau ng-MC sana-sini dengan ucapan terima kasih sebagai bayaran, mau nerima kerjaan tambahan seabrek-abrek. Saya mau mulai dari bawah, belajar apa saja dan menolak jadi orang yang sok punya potensi tapi ternyata isinya nol. Dan tentu saja saya juga menolak tawaran si Ayah supaya jadi pegawai negeri yang kerjaannya gampang, bisa pulang cepet tapi gaji selalu penuh, dan kerjaannya maen game facebook tapi dapet fasilitas dan tunjangan pensiun. Bah, sebagai rakyat yang bayar pajak buat gaji PNS, males banget nyisihin duit buat orang yang leha-leha gitu. Well, actually saya nggak mau jadi orang mental tempe.

Bekerja bukan melulu soal uang dan jabatan, tapi juga kredibilitas dan kemampuan. Kalau kita tipe yang ogah berkembang dan belajar, jangan nuntut ini-itu. Jadi aja sampah perusahaan yang kerjaannya sengaja dikasih sedikit, kebanyakan nganggur, suara nggak pernah didengar dan dianggap gak ada.

Tapi kalau nggak mau, yuk introspeksi diri. Belajar jadi orang yang mau belajar banyak hal—mulai dari hal kecil aja, misalnya dari hobi atau yang ada hubungannya sama pekerjaan atau keahlian kita. Cari dan asah potensi lain yang membuat perusahaan rela bayar lebih demi mempertahankan kita atau bahkan jadi rebutan banyak perusahaan lain. Berhenti mengeluh tapi mulai kerja yang ‘benar’. Dan simpelnya aja, kalau nggak suka jangan dilakuin. Kalau nggak mau kerja, resign aja. Tapi kalau nggak punya pilihan, setidaknya jadilah manusia yang bertanggung jawab... dengan pekerjaan.


*Cih! sinting, kesambet setan apa saya bisa mikir lurus kayak gini? Hehe, setidaknya kita sama-sama belajar kan yaaa... mudah-mudahan aja jadi manusia yang lebih baik.



No comments:

Post a Comment