Thursday, February 12, 2009

sok tahu soal film

Tadi sore saya sempat dateng ke preview film baru yang berjudul JEMAL. Iya, saya datang 15 menit setelah film tersebut diputar. Awalnya banyak adegan yang saya nggak ngerti dari film ini. Yaa, setengah jam pertama film ini cukup membosankan. Tapi seiring berjalannya cerita saya mulai mau memerhatikan jalan cerita—cerita lho, ya bukan jalannya film atau adegan. Selesai film, saya diertemukan oleh si penulis naskah dan sutradara. Pertemuan dengan orang-orang ini lah yang membuat saya pengen bicara soal film.

 

Ide bagus, eksekusi NOL.

Jujur saja, film yang baru ditonton tadi gak begitu menarik buat saya, tapi jika dikatakan film ini berbeda dengan yang lain, saya pun setuju. Nah, ketika ketemu dengan penulis naskah dan dia bicara panjang lebar tentang ide, tema, emosi hingga lokasi, saya menemukan bahwa ide film ini cukup bagus. Namun entah karena faktor bujet, pemain, editing atau pengolahan skrip, kadang banyak film dengan ide—katakan lah—brilian ternyata tidak sanggup diterjemahkan dengan baik dalam bentuk visual.

Iya, saya mengerti kalau banyak teman-teman yang bilang “bikin film itu nggak gampang tau!”. Dan saya pun nggak memandang sebelah mata soal itu. Namun yang jadi ganjalan di hati, ketika ide brilian gagal dalam penerjemahan visual bergerak, maka akan ada juga kesalahan persepsi tentang pesan yang disampaikan dalam film itu, iya toh? Nah, lalu siapa yang akan kita salahkan jika kesalahan persepsi ini berdampak negatif pada masyarakat? Jelas, saya menyalahkan kreator film komedi seks konyol yang mengatasnamakan pendidikan seks padahal isinya Cuma soal ‘begituan’ yang belum tentu bisa dicerna dengan baik oleh masyarakat awam Indonesia.

 

Follower? Most of them, yes!

                Dulu ketika munculnya film AADC—ada apa dengan cinta—saya beranggapan sama seperti orang-orang pada umumnya. Film Indonesia mulai bangkit dari tidur panjang. Semakin ke sini, saya malah meragukan ucapan sendiri. Sampai akhirnya saya meralat: Film Indonesia pernah bangkit namun berjalan mundur.

                Well, maaf jika saya terkesan sok tau soal film padahal nggak pernah sedikit pun ‘menyentuh’ dunia film apalagi bikin film. Saya hanya penikmat, dan atas dasar kenikmatan itu lah saya merasa harus sedikit protes jika taste yang saya rasakan justru jauh dari nikmat. Terlebih lagi jika nikmat bersinggungan baik langsung maupun tidak dengan moral manusia.

                Kecenderungan Indonesia adalah follower. Ketika ada satu film yang nge-hits hingga ujung langit, dua bulan kemudian belasan film yang sama dibuat. Hampir kesemuanya mengklaim kalo mereka menawarkan sesuatu yang berbeda. Oke jika film-film tersebut mendatangkan pencerahan baru bagi bangsa pribumi ini. Tapi kalau datang hanya suruh bayar tontonan horor nan erotis atau komedi seks murahan, kasihan dong warga negara ini.

 

Bicara film, bicara moral

                Ada yang bilang, zaman sekarang bikin film itu gampang asal punya modal gede. Tapi siapa yang akan mikirin moral puluhan juta orang yang nonton? Mungkin perlu diingatkan lagi, kalau film itu punya power yang super gede layaknya sebuah media. Film bisa membuat yang salah jadi benar, yang haram jadi halal, yang hitam jadi putih dan yang nggak enak jadi nikmat. Oke, kita skip deh kota Metropolitan ini yang dianggap udah intelek dan bisa mikir ‘bener’ soal mana realita dan mana fantasi. Tapi lihat orang-orang daerah yang lagi seneng-senengnya nge-mal—ngeceng di mal—dan berujung nonton (di) bioskop. Mereka adalah tipe manusia potensial yang mudah dipengaruhi dengan hanya sekelebat adegan. Nggak percaya?

                Let’s see, sebuah koran terbitan ibukota pernah melansir berita soal cowok yang kalap mata hampir memperkosa seorang nenek—digaris bawahi dan kapital ya, NENEK—lantaran nggak bisa mengontrol napsu setelah nonton salah satu film komedi seks yang meraup untung banyak itu. Bayangin, nenek-nenek aja masih mau ‘digarap’, padahal menurut akal sehat it’s an ‘eeeeiiiwww’. Oh, belum lagi film-film yang menyelipkan pesan yang cukup sensitif soal agama dan ras. Cuma mo ngasih tahu ya, menurut penelitian skripsi seorang teman, banyak lelaki yang salah menerjemahkan poligami setelah kemunculan film AAC.

 

 

Udah deh, profil masyarakat kita tuh bukan masyarakat yang pinter-pinter amat sehingga belum saatnya dijejali film-film ‘terjemahan’ Hollywood seperti American Pie, Harold and Kumar dan sejenisnya. Kalau pun ada kepinginan buat film, mungkin ada baiknya bikin film yang punya kedekatan batin, hubungan emosi atau pemecahan permasalahan masyarakat Indonesia. Saya tahu mbak-mbak atau mas-mas (orang film) ini bakal bicara soal komersialitas dan uang. Tapi boleh gak sedikit aja dipikirin soal moral, profil warga negara ini? karena saya rasa itu jauh lebih penting dari profit film.

No comments:

Post a Comment